- Kutai Riwayatmu Kini

Jika kita berkunjung ke Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang dalam lintasan sejarah termasyur dengan kerajaan Hindu dengan rajanya Mulawarman, kesan itu akan sedikit sirna. Sebab ketika kita memasuki Kutai Kartanegara, hal yang paling menonjol yang kita jumpai adalah Islamic Center, Mesjid yang diklaim terbesar di Indonesia menghabiskan dana yang sangat besar dalam pembangunannya serta  sederetan ornamen Islam menghiasi wajah kota. Di kota itu, akan sulit kita jumpai corak Hindu, apalagi orang-orang Hindu pewaris dari Raja Mulawarman. Hanya kesan itu kita dapatkan kita memasuki Museum Mulawarman yang berada di jantung kota. Museum itu merupakan bekas istana raja yang telah beralih dari Hindu menjadi Islam karena kekalahan debat teologi dan mengadu kesaktian.

Sederet peninggalan Hindu kita jumpai di Museum Mulawarman, mulai dari Arca Dewi (Durga) ada tiga buah, arca Dewa Brahma, Arca Mahakala, dan Arca Rsi Agastya. Arca-arca tersebut kondisinya sebagian sudah rusak, bahkan bagian kepala dari salah satu arca Dewi  sudah tidak ada. Peninggalan berupa gong, yupa maupun benda-benda seperti lingga juga masih dijumpai di musem tersebut. Namun lagi-lagi kejayaan Hindu seolah terkubur jika kita melihat lokasi pemakaman raja-raja-disebelah kiri museum. Makam-makam justru mencerminkan kejayaan Raja Islam yang pernah memimpin. Padahal di museum itu pernah dipimpin oleh raja yang masih beragama Hindu.

Penduduk Kukar kini sebagian besar warga pendatang beragama Islam, seperti Bugis, Jawa dan penduduk asli dayak yang jumlahnya sedikit. Sementara informasinya warga Dayak yang beragama Hindu sebagian besar berada di pedalaman. Sebab memang ketika raja mereka memeluk Islam, sebagian rakyat yang tidak mau ikut agama raja harus lari ke hutan.

Kini di Desa Loa Ipuh berdiri pura megah stile Bali-Pura Payogan Agung Kutai yang disungsung umat Hindu Kukar dan sekitarnya. Pura ini berdiri tahun 1994. Menurut pemangku pura setempat pura ini bermula adanya warga Bali yang jumlahnya sekitar 50 orang di Kutai berprofesi sebagai TNI/Polri maupun sejumlah warga Bali lainnya. Tahun 1990 setelah terbentuk PHDI mulai digagas berdirinya pura. Tahun 1994 pendirian pura mulai dilakukan. Tahun 2000 dilakukan upacara Ngenteg Linggih dengan mendatangkan umat yang besar dari berbagai penjuru nusantara. Jumlah warga Hindu di Kabupaten Kutai 450 KK berpusat di Tenggarong Seberang, warga Jawa Hindu sekitar 60 KK, dan Muara Kaman 62 KK. Warga lokal berpusat di Kutai Barat dan kabupaten Pasir Pulau Pinang. Dikatakan pemangku, karena di Muara Kaman awalnya tidak ada warga Hindu, maka pura dibangun di Tenggarong, bukan di Muara Kaman yang berupakan pusat kerajaan Hindu tertua di nusantara itu.

Hal yang menarik di Kutai Kartanegara adalah lambang kerajaan Lembu Swana. Lembu swana ini berwarna keemasan digambarkan sebagai bermahkota tapi bukan raja, bersayap tapi bukan burung, bertaji tapi bukan ayam, berbelalai tapi bukan gajah, bersisik tapi bukan ikan. Lembu Swana yang dalam mitologi kutai diyakini keberadaanya ini kini menjadi simbol kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Lembu Swana selain diyakini sebagai binatang surgawi yang membantu raja dalam menunaikan tugas-tugasnya.

 

Selayang Pandang Kerajaan Kutai

Semua dari kita yang mendapat pelajaran sejarah di bangku sekolah pasti ingat dengan kerajaan Kutai. Kerajaan tertua di nusantara yang bercorak Hindu, dimana raja dan rakyatnya beragama Hindu, bahkan kental dengan pengaruh India, baik dari sisi arsitektur maupun gelar raja. Muara Kaman yang terletak sekitar 110 kilometer kearah hulu sungai Mahakam dari Kota Samarinda diklaim sebagai pusat kerajaan Kutai. Namun perjalanan sejarah-pusat kerajaan yang berpindah dari Muara Kaman hingga di jantung kota Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini, tidak banyak yang mengetahui. Termasuk sejumlah pejabat di Kukar mengakui tidak tahu persis sejarah itu.

Sejumlah sumber, termasuk publikasi resmi kerajaan Kutai Kartanegara sekarang menyebutkan, Muara Kaman merupakan sentral kerajaan Hindu tertua pada abad ke IV di negeri ini. Kerajaan itu bernama Kutai Martapura (Martadipura). Bukti jejak sejarah itu terpahat dalam 6 prasasti yupa, berbahasa sansekerta hurup pallawa-yang mengisahkan area kerajaan Kutai terletak di Muara Kaman, dimana raja Kudungga disebut sebagai pendiri kerajaan, berputra Raja Aswawarman. Aswawarman berputra tiga orang, salah satunya bernama Mulawarman. Mulawarman inilah raja termasyur yang pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada brahmana serta dibawah kepemimpinanya yang bijaksana, rakyat hidup makmur. Prasasti yupa menyebutkan Raja Aswawarma merupakan raja yang cakap dan kuat. Pada masa pemerintahannya kerajaan Kutai diperluas. Hal ini dibuktikan dengan dilakukan upacara Aswamedha Yajna. Sementara dibawah pemerintahan Raja Mulawarman Kutai mengalami masa keemasan, rakyat hidup tentram dan sejahtera. Dengan keadaan itu, raja mengadakan upacara kurban emas dan sapi dalam jumlah yang besar.

Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, pada abad ke-4 pengaruh Hindu di Kutai sangat besar. Masyarakat saat itu telah mendirikan kerajaan yang teratur dan rapi menurut pola pemerintahan di India. Salah satu yupa menyebutkan tempat suci dengan kata Vaprakecvara yang artinya lapangan luas tempat pemujaan. Vaprakecvara ini dihubungkan dengan Dewa Siwa, yang mana saat itu agama Siwa terkenal di Kutai. Didukung oleh keberadaan Arca Mahakala dan tiga patung Dewi yang tersimpan di Museum Mulawarman, diduga ajaran Tantrayana juga dikenal luas di Kutai. Selain itu, Kalung Siwa yang merupakan benda-benda kerajaan, kini tersimpan di Museum Jakarta semakin menguatkan perkembangan ajaran Siwa dan Tantrayana di daerah ini. Peranan penting Brahmana di Kutai terutama dalam penyelenggaraan upacara kurban menunjukkan besarnya pengaruh Brahmana dalam ajaran Siwa. Kalung Siwa yang terbuat dari emas ini ditemukan penduduk di sekitar danau Lipan, Kecamatan Muara Kaman pada masa pemerintahan Aji Sultan Muhammad Sulaiman (1850-1899). Kalung itu kemudian diserahkan kepada sultan yang dikenakan pada pesta adat dan pelantikan sultan baru. Selain itu atribut kerajaan Kutai Mulawarman berupa kalung uncal yang berelief Ramayana juga ditemukan. Kalung uncal ini diyakini berasal dari India.

 

Sekarang ada dua jalur untuk menuju Muara Kaman, lewat jalan darat atau jalur sungai dengan menggunakan kendaraan air di Sungai Mahakam. Di lokasi ini ditemui sejumlah peninggalan kuno seperti oleh masyarakat sekitar disebut Lesong Batu. Lesok batu ini oleh sejumlah arkeolog diyakini salah satu dari 7 yupa, dimana enam yupa  telah ditemukan. Lesong batu itu kini dalam posisi berbaring berbentuk balok panjang yang terletak diatas bukit. Selain itu konstruksi candi yang mengisahkan kejayaan kerajaan tersebut juga ditemukan oleh masyarakat sekitar yang peduli dengan situs penting tersebut. Juga peneliti dari Universitas Negeri Malang menemukan situs makam kuno, gerabah, manik-manik dan perangkat logam seperti mata tombak.

Dalam rekaman sejarah, ada 21 raja yang memerintah di kerajaan Kutai Martadipura. Raja terakhir adalah Maharaja Dharma Setia. Sementara itu abad awal abad ke-13  berdiri sebuah kerajaan baru ditepian batu atau Kutai Lama bernama kerajaan Kutai Kartanegara, dengan rajanya pertama Aji Bhatara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Kerajaan ini mulanya juga bercorak  Hindu. Kutai Martadipura dengan jaman keemasan Raja Mulawarman berbeda dengan kerajaan Kutai Kartanegara.

Namun peristiwa yang mengubah sejarah terjadi ketika pemerintahan Raja Makota. Dua penyebar Islam Tuan Haji Tunggang Parnagan dan Tuan Di Bandang dari Makassar datang untuk menyebarkan Islam. Peristiwa diawali dengan debat teologis antara Raja Makota dan dua penyebar Islam ini. Selain itu juga dilakukan adu kesaktian yang membuat Raja Makota mengakui kesaktian dua penyebar Islam ini. Ia akhirnya masuk Islam dan seluruh rakyat harus mengikuti. Raja Makota adalah raja pertama yang memeluk Islam serta mulai didirikan Mesjid. Demikian seriring dengan berubah menjadi kesultanan, nama-nama raja berganti dengan bercorak Islam. Sebutan raja pun berganti menjadi Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhamad Idris (1735-1778)

 

Pada abad ke-16 terjadilah peperangan diantara dua kerajaan besar di Kutai  ini. Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil mengalahkan Kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin Raja Dharma Setia. Kerajaan yang menang kemudian menggabungkan kerajaan dan berganti nama menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pusat kerajaan dari Kutai Lama pindah ke Pemarangan (1732-1782) kemudian pindah ke Tenggarong (1782) lokasi museum sekarang ini.

 

Kini, aliran tenang singai Mahakam yang panjangnya 910 km seolah menjadi saksi bisu cemerlangnya kerajaan Hindu masa lalu-yang kini telah ditinggalkan, bahkan rekaman sejarah Hindu-pun sulit didapat. Hanya, kesultanan Islam yang masih tampak hingga kini. Di Kutai Kartanegara walau dipimpin seorang bupati, masih ada raja-Pangeran Prabu yang bergelar Raja Salehuddin II. Tentunya beliau merupakan sultan Islam. Namun sayang sejumlah wartawan yang berburu ingin mendapatkan wawancara tidak bisa menemui karena sulitnya birokrasi kesultanan.

 

Nama-nama Raja Kutai (Martadipura)

  1. Maharaja Kudungga
  2. Maharaja Aswawarman
  3. Maharaja Sri Aswawarman/Mulawarman
  4. Maharaja Marawijaya Warman 
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parana Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putra
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia

 

Nama-Nama Raja Kutai Kartanegara

  1. Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325)
  2. Aji Batara Agung Paduka Nira
  3. Aji Maharaja Sultan
  4. Aji Raja Mandarsyah
  5. Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya
  6. Aji Raja Makota Mulia Alam (masuk Islam)
  7. Aji Dilanggar
  8. Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (mengalahkan Raja Kutai Dharma Setia)
  9. Aji Pangeran Dipati Agung Ing Martadipura
  10. Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura
  11. Aji Ragi Gelar Ratu Agung
  12. Aji Pangeran Dipati Tua
  13. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martadipura
  14. Aji Muhammad Idris
  15. Aji Muhammad Aliyedin
  16. Aji Muhammad Muslihuddin
  17. Aji Muhammad Salehuddin
  18. Aji Muhammad Sulaiman
  19. Aji Muhammad Alimuddin
  20. Aji Muhammad parikesit
  21. Aji Muhammad Salehuddin II (Pangeran Prabu) (1999-sekarang)

 

Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan atas serangan Raja Kutai Kartanegara Aji Pangeran Anum Panji Mandapa. Kerajaan menang berubah nama menjadi Kutai Kartanegara Ing Martadipura, menjadi kesultanan Islam.

 

 

Situs Muara Kaman Dikembangkan

Rombongan pejabat Pemda Tabanan dan sejumlah wartawan dalam pertemuan dengan pejabat Bupati Kutai Kartananegara (Kukar) Syachruddin,MS meminta agar situs Hindu yang ada di Kukar tetap dilestarikan. Sebab, merupakan satu-satunya rekaman sejarah kejayaan Hindu nusantara pada masa permulaan. Tanah kawitan tersebut, kata Wakil Bupati Tabanan IGG Putra Wirasana sudah selayaknya mendapat perhatian agar generasi mendatang masih melihat jejak-jejak sejarah itu. Syachruddin mengakui selama ini situs-situs yang ada termasuk di Muara Kaman belum mendapat perhatian yang layak. Namun ia mengaku mendapat suntikan segar dari Tabanan-Bali demi melestarikan warisan sejarah itu.

Dikatakan Syachruddin, pihaknya telah berniat mengembangkan situs peninggalan Raja Mulawarman itu menjadi wisata spiritual. Dikatakannya akan dibangun sejumlah fasilitas pendukung, termasuk tempat ibadah Hindu. Namun ia menegaskan, penataannya akan mengikuti kontruksi Hindu abad ke-3 dan 4, bukan Hindu ala Bali yang berkembang selama ini. “Tentunya kontruksi dan model tempat ibadah akan disesuaikan dengan Hindu aba ke-3 itu, bukan seperti Bali untuk menjamin keasliannya,” ujar Asisten I Pemprov Kaltim itu.

 

Diakui Syahcruddin, kekuatan sejarah merupakan potensi pariwisata yang luar biasa. Ia lebih cenderung mengembangkan pariwisata religius yang bernilai sejarah, sebagai daya dukung utama-sulit dijumpai di daerah lain. Walau belum ada penataan apa-apa kata pejabat bupati, selama ini beberapa kali umat Hindu di Kaltim telah melakukan persembahyangan di Muara Kaman sebagai tanah kawitan yang diduga kuat sebagai pusat kerajaan Hindu tertua di nusantara. Umat Hindu dan bahkan nusantara kata Syachruddin memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Kutai sebagai cikal bakal budaya Hindu. Namun persoalannya, ditengah lingkaran umat Islam baik di Muara Kaman maupun Kukar, mungkinkah situs Muara Kaman dikembangkan sesuai dengan budaya Hindu ? 

 

 

Pernah dimuat di Majalah Media Hindu

About these ads